Categories
Pendidikan

Peranan Uang Dalam Masyarakat

Peranan Uang Dalam Masyarakat

Peranan Uang Dalam Masyarakat

Dalam masyarakat yang masih primitif belum terdapat pembagian kerja. Sedangkan pada tingkat masyarakat yang lebih maju atau masyarakat yang sudah melakukan tukar menukar, telah tampak adanya spesialisasi pekerjaan. Tidak seluruh kebutuhan harus diproduksikan oleh setiap individu, sebagaimana pada masyarakat primitif. Dengan adanya uang, memungkinkan terlaksananya pembagian kerja yang lebih sempurna seperti yang kita temui sekarang ini. Dalam masyarakat maju, hampir tidak ada seseorang yang menghasilkan suatu barang sejak proses produksi yang pertama hingga menjadi barang jadi. Tiap tahap proses produksi dikerjakan oleh orang atau bagian khusus. Pembagian kerja seperti itu (biasanya melalui sistem ban berjalan) akan mempermudah pekerjaan dan melipatgandakan hasil produksi. Adanya uang, yang berfungsi sebagai alat perantaraan untuk tukar menukar mempermudah terselenggaranya pembagian kerja. Terbukti, uang sangat berperanan dalam proses terciptanya spesialisasi pekerjaan. Jadi, peranan uang dalam perekonomian terutama dalam produksi dan pertukaran / konsumsi masyarakat.

 

Spesialisasi menyebabkan hasil produksi berlipat ganda.

Hal ini dapat dibandingkan dengan keadaan ketika orang-orang masih melakukan beraneka ragam pekerjaan. Selain menciptakan spesialisasi, uang menentukan pula arah produksi, konsumsi dan kegiatan ekonomi. Apabila harga suatu barang meningkat, konsumen akan mengubah arah permintaannya terhadap barang-barang atau jasa yang masih dalam kesanggupan daya belinya. Produsen akan mengurangi produksi apabila permintaan menurun (karena adanya kenaikan harga), dan sebaliknya. Dengan demikian, arah produksi dan arah konsumsi cenderung mengikuti perubahan-perubahan daya beli uang.

Jika uang belum memegang peranan penting, arah produksi dan konsumsi pada umumnya tidak mengalami perubahan-perubahan yang besar untuk jangka waktu agak lama. Kenaikan harga barang-barang (inflasi), timbul karena digunakannya uang dalam masyarakat. Gejolak naik turunnya harga barang-barang tidak begitu besar dalam perekonomian barter. Hanya dalam perekonomian uang masalah inflasi atau deflasi timbul.

Permintaan Uang

a. Teori Kuantitas (Klasik)

Teori Kuantitas (Quantity Theory) uang adalah teori ekonomi mengenai permintaan uang (demand for money). Teori kuantitas tergolong sangat tua namun masih memadai dengan keadaan saat ini. Teori kuantitas uang membahas penyebab utama terjadinya perubahan nilai uang atau tingkat harga.

Teori ini menyatakan bahwa perubahan nilai uang atau tingkat harga merupakan akibat adanya perubahan jumlah uang beredar. Seperti halnya benda-benda ekonomi lainnya (ingat, bahwa uang juga merupakan barang ekonomi), bertambahnya jumlah uang yang beredar dalam masyarakat akan mengakibatkan turunnya nilai mata uang. Menurunnya nilai uang sama artinya dengan naiknya tingkat harga. Menurut teori kuantitas uang, bertambahnya jumlah uang yang beredar cenderung mengakibatkan naiknya tingkat harga (inflasi), dan sebaliknya.

Teori kuantitas uang dikemukakan oleh Irving Fisher. Ia mengemukakan persamaan yang dinamakan persamaan pertukaran (equation of exchange) Persamaan pertukaran dinyatakan sebagai berikut:

MV = PT, dimana

M = jumlah uang beredar/penawaran uang (money suplly)
V = kecepatan peredaran uang (velocity circulation of moneya)
P = tingkat harga-harga (price level)
T = jumlah barang-barang dan jasa-jasa yang diperjual-belikan dalam satu tahun tertentu (transaction)

Di dalam persamaan tersebut, M sama dengan jumlah uang kertas, logam, dan uang giral yang beredar (terdapat) dalam perekonomian. Kecepatan peredaran uang (V) ditentukan berdasarkan berapa seringnya uang beredar yang terdapat dalam masyarakat berpindah tangan dalam satu tahun. Apabila setiap jenis uang secara rata-rata berpindah tangan sebanyak sepuluh kali dalam satu tahun, maka V adalah sepuluh.

Nilai P ditentukan berdasarkan indeks harga. Di dalam perekonomian terdapat banyak jenis barang dan harganya berbeda-beda pula. Dari waktu ke waktu harga-harga mengalami perubahan yang berbeda. Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan semua keadaan ini dalam persamaan di atas. Untuk menunjukkan keadaan harga-harga dan perubahannya dari tahun ke tahun, digunakan indeks harga beserta perubahan-perubahannya. T menunjukkan jumlah barang-barang jadi dan barang-barang setengah jadi yang diperjualbelikan.

Perlu diingat bahwa PT tidak sama nilainya dengan pendapatan nasional. Penadapatan Nasional (BAB II) adalah nilai seluruh barang jadi yang dihasilkan oleh suatu negara dalam satu tahun tertentu. Nilai tersebut diperoleh dengan menjumlahkan hasil perkalian tiap-tiap barang jadi dan jasa dengan harga-harganya.

Sedangkan PT adalah penjumlahanj hasil perkalian tiap-tiap barang yang termasuk pendapatan nasional dengan harga-harganya, ditambah dengan hasil perkalian tiap-tiap barang setengah jadi dengan harga-harganya. Singkatnya, PT meliputi pendapatan nasional ditambah nilai transaksi barang-barang setengah jadi. Berarti nilai PT lebih besar dari pendapatan nasional. Dalam teori kuantitas diasumsikan (dianggap) bahwa kecepatan peredaran uang adalah tetap; dan penggunaan tenaga kerja penuh (fullemployment) sudah tercapai.

Berdasarkan asumsi tersebut maka dalam persamaan MV = PT, besarnya faktor V dan T adalah tetap (konstan). T dianggap tetap karena pada tingkat penggunaan tenaga kerja penuh, pendapatan nasional tidak dapat ditambah lagi. Jumlah barang-barang yang diperjualbelikan (ditransaksikan) pun tidak mengalami perubahan. Setiap perubahan jumlah uang beredar (M) akan menimbulkan perubahan yang sama tingkatnya terhadap harga-harag (P).

Ahli-ahli ekonomi Klasik berpendapat bahwa kecepatan peredaran uang (V) adalah tetap. Mereka beranggapan bahwa jumlah uang beredar dan pertambahannya tidak mempunyai pengaruh yang berarti terhadap kecepatan peredaran uang. Menurut mereka kecepatan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor teknis. Faktor-faktor tersebut antara lain sistem pembayaran gaji dalam masyarakat, kebiasaaan masyarakat dalam melakukan perdagangan, efisienai sistem pengangkutan, dan kepadatan penduduk.

Kesimpulan teori kuantitas uang oleh Irving Fisher yaitu perubahan jumlah uang beredar akan menimbulkan perubahan yang sama besarnya terhadap harga-harga, dan dalam arah yang bersamaan. Maksudnya, bila uang beredar bertambah sebanyak 5%, maka tingkat harga-harga juga akan bertambah (inflasi) sebanyak 5%, dan sebaliknya.

b. Teori Keynes

Kritik Keynes Terhadap Teori Kuantitas. John Maynard Keynes mengajukan kritik terhadap teori para ahli ekonomi Klasik atas pandangan mereka mengenai pengaruh uang terhadap harga-harga dan tingkat kegiatan ekonomi. Teori kuantitas menyatakan bahwa : (a) perubahan jumlah uang beredar akan menimbulkan perubahan yang sama tingkatnya terhadap harga-harga; (b) perubahan jumlah uang beredar tidak akan menimbulkan perubahan terhadap penadapatan nasional.

Keynes mengkritik teori dengan mengajukan pendapatan mengenai korelasi antara uang yang beredar dengan harga-harga, sebagai berikut; (a) Keynes sependapat bahwa pertambahan jumlah uang beredar dapat menaikkan harga-harga. Sekalipun demikian, kenaikan harga-harga tidak selalu sebanding dengan kenaikan jumlah uang beredar. Oleh karena itu, kenaikan jumlah uang beredar tidak selalu menimbulkan perubahan terhadap harga-harga. Dalam perekonomian yang menghadapi masalah pengangguran serius, pertambahan jumlah uang beredar tidak akan mempengaruhi harga-harga. (b) Kenaikan harga-harga dipengaruhi oleh kenaikan jumlah uang beredar maupun kenaikan biaya produksi. Meskipun jumlah uang beredar tidak mengalami perubahan, tetapi apabila biaya produksi bertambah tinggi, akan terjadi kenaikan harga-harga.

Para ahli ekonomi Klasik berpendapat bahwa perekonomian selalu mencapai penggunaan tenaga kerja penuh, dan pertambahan jumlah uang beredar tidak dapat menaikkan produksi. Dalam teori Keynes tidak digunakan asumsi bahwa perekonomia selalu mencapai penggunaan tenaga kerja penuh. Oleh karena itu, Keynes berpendapat bahwa pertambahan jumlah uang beredar akan menaikkan pendapatan nasional.

 

Menurut Keynes, motif (alasan) masyarakat memegang uang adalah sebagai berikut:

Motif Transaksi (Transaction Motive). Di dalam perekonomian moderndengan tingkat spesialisasi yang tinggi, uang sangat diperlukan. Spesialisasi yaitu keadaan setiap orang telah dapat mengkhususkan diri pada pekerjaan yang ia sukai dan sesuai keahliannya. Setiap orang yang bekerja ingin memperoleh upah atau uang untuk membeli (transaksi) barang-barang kebutuhannya. Jumlah permintaan uang untuk tujuan transaksi tergantung pada besarnya pendapatan. Semakin tinggi pendapatan seseorang semakin banyak jumlah uang yang digunakan untuk melakukan transaksi.
Motif Berjaga-jaga (Precautionary Motive). Oleh masyarakat, uang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masa depan yang tidak dapat diduga sebelumnya. Hal-hal yang tak terduga, misalnya anggota keluarga yang sakit atau kedatangan tamu dari luar kota. Untuk menghadapi keperluan semacam itu masyarakatmerasa perlu memegang uang untuk keperluan berjaga-jaga. Besarnya uang yang disimpan untuk berjaga-jaga juga ditentukan oleh besarnya pendapatan.
Motif Spekulasi (Speculative Motive). Spekulasi berarti membuat pilihan dengan harapan mendapatkan hasil yang tinggi. Contohnya membeli surat-surat berharga obligasi dan saham perusahaan.

 

Faktor yang menentukan dalam melakukan pilihan ini :

Hasil yang akan diperoleh dari pemilikan surat-surat berharga tersebut. Para pemegang uang akan bersedia memiliki surat-surat berharga apabila surat berharga tersebut memberikan tingkat pendapatan yang tinggi. Jika tidak, niscaya mereka akan lebih suka memegang uang. Dengan demikian permintaan uang untuk tujuan spekulasi ditentukan oleh tingkat bunga.